Ide Solusi Banjir Tasikmalaya ternyata Sejalan dengan Imbauan Mendagri

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Gagasan sederhana terkait solusi banjir Tasikmalaya yang sebelumnya diangkat redaksi ternyata mendapat respons dari pemerintah daerah. Bahkan, ide tersebut dinilai sejalan dengan kebijakan yang telah diimbau oleh Menteri Dalam Negeri.
Informasi ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, S.T., M.P., setelah membaca pemberitaan Lintas Priangan terkait solusi banjir yang menekankan pentingnya gotong royong.
Feri kemudian menghubungi redaksi dan menyampaikan pandangannya.
Menurut Feri, ide yang diangkat dalam pemberitaan tersebut merupakan langkah yang sangat relevan dan realistis untuk menjawab persoalan banjir di Kota Tasikmalaya.
Ia menjelaskan, solusi banjir Tasikmalaya tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan infrastruktur semata. Peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah, menjadi faktor yang sangat menentukan.
“Gagasan itu sangat baik. Justru sejalan dengan imbauan dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Feri merujuk pada kebijakan Menteri Dalam Negeri yang telah menerbitkan Surat Edaran pada 18 Februari 2026 terkait dukungan pelaksanaan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
Gerakan tersebut menekankan pentingnya keterlibatan aktif pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara rutin.
Berita sebelumnya: Pejabat Ini Punya Solusi Banjir Tasikmalaya: Sederhana dan Kerap Disepelekan
Dalam implementasinya, kegiatan ini bahkan diarahkan untuk dilakukan secara berkala, seperti kegiatan bersih-bersih lingkungan yang melibatkan berbagai unsur.
Menurut Feri, semangat yang diusung dalam Gerakan Indonesia ASRI sejalan dengan ide yang disampaikan dalam pemberitaan sebelumnya, yakni menghidupkan kembali budaya gotong royong di tingkat lingkungan.
Ia menilai, jika kegiatan gotong royong dilakukan secara rutin, minimal satu kali dalam sepekan, maka potensi penyumbatan saluran air akibat sampah dapat ditekan secara signifikan.
Feri juga mengakui bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan di Kota Tasikmalaya. Di lapangan, masih ditemukan kebiasaan membuang sampah sembarangan yang berdampak langsung pada kondisi saluran air.
Dalam beberapa kasus, bahkan ditemukan sampah berukuran besar yang menyumbat gorong-gorong, sehingga aliran air menjadi tidak lancar.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir saat hujan deras mengguyur.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Kalau hanya mengandalkan sistem, tentu ada keterbatasan. Tapi kalau masyarakat ikut terlibat aktif, hasilnya akan jauh lebih optimal,” katanya.
Feri menambahkan, penguatan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi kunci utama dalam upaya jangka panjang.
Ia berharap, gagasan sederhana seperti gotong royong tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar diterapkan secara konsisten di setiap lingkungan.
Dengan demikian, solusi banjir Tasikmalaya tidak hanya bergantung pada proyek besar atau penanganan teknis, tetapi juga pada perubahan perilaku yang dimulai dari tingkat paling dasar.
Seiring dengan adanya imbauan dari pemerintah pusat dan dukungan dari pemerintah daerah, peluang untuk menekan risiko banjir menjadi semakin terbuka.
Kini, tantangannya adalah bagaimana memastikan semangat tersebut benar-benar dijalankan secara nyata di tengah masyarakat.





