Berita Tasikmalaya

Eksistensi Media Lokal Tasikmalaya sebagai Aktor Pentahelix

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tidak hanya menjadi seremoni tahunan bagi insan pers, tetapi juga momentum strategis untuk menegaskan eksistensi media lokal Tasikmalaya sebagai aktor pentahelix dalam pembangunan daerah, khususnya dalam penguatan wawasan kebangsaan di tingkat lokal.

Hal tersebut disampaikan Drs. Ade Hendar, Kepala Badan Kesbangpol Kota Tasikmalaya, saat diwawancarai Lintas Priangan, bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional, Senin (9/2/2026). Ade menilai, media lokal memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membumikan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

Menurut Ade Hendar, dalam kerangka pentahelix—yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media—media lokal berada pada posisi yang sangat strategis. Media daerah bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara pandang publik terhadap isu kebangsaan, demokrasi, dan kehidupan bernegara.

“Media lokal Tasikmalaya hidup dan tumbuh bersama masyarakatnya. Kedekatan ini membuat media lokal memahami denyut sosial, budaya, dan dinamika lokal secara lebih mendalam,” ujarnya. Dengan pemahaman tersebut, media lokal memiliki potensi menyajikan pemberitaan yang kontekstual, menenangkan, dan mencerahkan, terutama ketika masyarakat dihadapkan pada isu-isu sensitif yang berpotensi memicu gesekan sosial.

Dalam konteks wawasan kebangsaan, Ade Hendar menekankan bahwa nilai persatuan, toleransi, dan kebhinekaan tidak cukup hanya disampaikan melalui program formal pemerintah. Nilai-nilai tersebut justru lebih efektif ketika hadir melalui narasi media yang dekat dengan keseharian warga. Media lokal, menurutnya, berperan sebagai jembatan antara kebijakan negara dan realitas masyarakat.

Ia menilai, media lokal Tasikmalaya memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga ruang publik yang sehat. Di tengah derasnya arus informasi digital dan media sosial, media lokal dituntut menjadi rujukan yang kredibel, sekaligus penyeimbang terhadap informasi yang belum terverifikasi atau berpotensi memecah belah persatuan.

Ade Hendar juga menyoroti pentingnya kemitraan yang setara antara pemerintah daerah dan media lokal. Dalam skema pentahelix, relasi tersebut tidak boleh bersifat transaksional. Pemerintah membutuhkan media sebagai mitra edukasi publik, sementara media membutuhkan akses informasi yang terbuka dan akuntabel dari pemerintah.

“Ketika media lokal kuat, maka stabilitas sosial dan politik daerah juga akan lebih terjaga,” ujarnya. Ia menambahkan, penguatan wawasan kebangsaan di daerah sangat bergantung pada kualitas komunikasi publik yang dibangun bersama oleh seluruh aktor pentahelix.

Terkait tantangan ke depan, Ade Hendar mengakui bahwa media lokal menghadapi tekanan yang tidak ringan, mulai dari persoalan ekonomi, perubahan pola konsumsi informasi, hingga kompetisi dengan platform digital. Namun ia optimistis, dengan kolaborasi lintas aktor dan komitmen pada nilai-nilai kebangsaan, media lokal Tasikmalaya akan tetap eksis dan relevan.

Pada momentum Hari Pers Nasional ini, ia menyampaikan apresiasi kepada insan pers di Tasikmalaya yang terus menjaga profesionalisme dan etika jurnalistik. Ia berharap media lokal semakin berperan aktif sebagai aktor pentahelix yang tidak hanya mengawal pembangunan, tetapi juga merawat semangat kebangsaan dari tingkat daerah.

Di tengah dinamika zaman, bagi Kota Tasikmalaya, media lokal bukan sekadar penyampai kabar. Dalam perspektif pentahelix dan wawasan kebangsaan, media lokal adalah penjaga nalar publik, yang harus tenang, kritis, dan tetap berpihak pada persatuan. (AS)

Related Articles

Back to top button