Berita Tasikmalaya

Diky Candra Marah, Pemkot Tasikmalaya Makin Parah

Krisis Komunikasi di Tubuh Pemkot Tasikmalaya

Kata “krisis” dalam konteks ini bukan berarti pemerintahan berhenti berjalan. Krisis komunikasi merujuk pada kondisi ketika:

  • Jalur informasi tidak sinkron.
  • Agenda pimpinan tidak terkoordinasi optimal.
  • Pesan publik dari aktor-aktor kunci tidak sepenuhnya selaras.

Dalam literatur komunikasi organisasi, kondisi tersebut disebut sebagai disonansi kepemimpinan. Ia tidak selalu berarti konflik terbuka, tetapi menunjukkan adanya ketegangan koordinasi yang perlu segera dibenahi.

Jika dibiarkan, krisis komunikasi Pemkot Tasikmalaya dapat berdampak pada:

  • Kebijakan yang berjalan parsial.
  • Promosi dan mutasi yang dipersepsikan sebagai preferensi kelompok.
  • Turunnya kepercayaan publik terhadap soliditas kepemimpinan.
  • Melambatnya pengambilan keputusan strategis.
  • Ujian Konsolidasi Kepemimpinan

Dinamika pemerintahan daerah selalu mengandung dimensi politik dan administratif. Perbedaan pandangan adalah hal biasa. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan itu tidak dikelola dalam kerangka komunikasi yang rapi.

Dua insiden yang melibatkan Wakil Wali Kota dan berkembangnya isu diferensiasi komunikasi pejabat menunjukkan bahwa konsolidasi internal masih menjadi pekerjaan rumah. Komunikasi Pemkot Tasikmalaya kini bukan hanya soal teknis penjadwalan, melainkan tentang keselarasan arah.

Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi kepemimpinan kolektif. Sinkronisasi agenda, forum koordinasi rutin, dan penegasan SOP komunikasi antar-pimpinan menjadi langkah mendesak agar persepsi krisis tidak berkembang menjadi realitas konflik.

Publik Tasikmalaya menaruh harapan pada kepemimpinan yang solid dan satu suara. Dalam konteks itu, krisis komunikasi Pemkot Tasikmalaya bukan tentang siapa yang lebih dominan, melainkan tentang siapa yang mampu memastikan bahwa seluruh elemen pemerintahan bergerak dalam irama yang sama.

Perbedaan pendapat bisa memperkaya kebijakan. Tetapi tanpa komunikasi yang efektif, perbedaan mudah berubah menjadi polarisasi. Dan ketika polarisasi masuk ke ruang birokrasi, yang terdampak bukan hanya elite—melainkan pelayanan publik secara keseluruhan.

Kini, bola ada di tangan para pimpinan Kota Tasikmalaya. Apakah dinamika ini akan menjadi momentum konsolidasi, atau justru memperdalam fragmentasi, waktu yang akan menjawab. Namun satu hal jelas: komunikasi bukan sekadar pelengkap dalam pemerintahan—ia adalah fondasi. (AS)

Laman sebelumnya 1 2 3

Related Articles

Back to top button