Deklarasi SWAKKA: Kebersamaan Media Lokal dengan Dukungan Lintas Sektoral

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kamis pagi (12/2/2026), salah satu ruang pertemuan di Grand Metro Hotel Tasikmalaya perlahan dipenuhi wajah-wajah yang tak asing dalam lanskap peemrintahan daerah di Priangan Timur. Satu per satu pejabat dari Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis mulai berdatangan. Seragam dinas, jas formal, dan batik resmi bercampur dengan wajah-wajah wartawan serta pengelola media dari komunitas SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif).
Di awal, suasana ruangan sempat terasa canggung dan kaku. Beberapa tamu saling menyapa dengan senyum formal, sebagian lainnya berbincang pelan sambil menunggu acara dimulai. Jam di dinding menunjukkan pukul 10.00 WIB, namun kegiatan baru benar-benar dimulai pada 10.35 WIB. Meski demikian, tak terlihat tanda-tanda kegelisahan. Kursi-kursi terisi penuh, dan percakapan ringan perlahan mencairkan suasana.
Ketika acara resmi dibuka, nuansa ruangan berubah. Sapaan pembuka, tepuk tangan ringan, dan tatapan penuh perhatian membuat atmosfer yang semula formal menjadi lebih hangat. Momen itu menjadi penanda ketika SWAKKA resmi dideklarasikan.
Siang tadi bukan sekadar seremoni. Ia menjadi titik temu berbagai unsur—media, pemerintah, legislatif, penegak hukum dan tokoh masyarkat—yang hadir dalam satu ruang dengan semangat yang sama: kebersamaan. Sebuah penanda bahwa media-media lokal memilih berdiri dalam satu barisan, untuk tumbuh bersama dan memberi dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Dukungan Lintas Sektoral
Deklarasi SWAKKA terasa istimewa karena dukungan yang hadir tidak datang dari satu unsur saja, melainkan lintas sektor.
Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dari tiga daerah menunjukkan apresiasi nyata. Kominfo Kabupaten Tasikmalaya dan Kominfo Kabupaten Ciamis hadir langsung melalui kepala dinasnya. Sementara Kominfo Kota Tasikmalaya diwakili oleh Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik. Meski kepala dinasnya berhalangan karena agenda luar kota, komunikasi dan dukungan telah lebih dulu disampaikan kepada panitia beberapa hari sebelumnya.
Bagi SWAKKA, kehadiran Kominfo memiliki makna strategis. Sebagai SKPD yang bersinggungan langsung dengan ekosistem informasi dan media, kehadiran tersebut menjadi sinyal bahwa kolaborasi antara media dan pemerintah dapat dibangun dalam ruang yang sehat.
Dari unsur legislatif, dukungan juga tampak nyata. DPRD Kota Tasikmalaya diwakili Kepler Sianturi, sementara DPRD Kabupaten Tasikmalaya diwakili Wakil Ketua, H. Aep Syarifudin. Dari Kabupaten Ciamis, meski tidak ada perwakilan DPRD kabupaten yang hadir, kehadiran anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari daerah pemilihan Kabupaten Ciamis, H. Didi Sukardi, menjadi representasi yang memberi bobot tersendiri.
Unsur penegak hukum pun hadir. Wakapolres Ciamis memenuhi undangan, disertai perwakilan dari Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya, Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya, serta Kejaksaan Negeri Kabupaten Ciamis.
Sejumlah SKPD turut menguatkan momentum tersebut, di antaranya Badan Kesbangpol, Dinas PUTR, dan Dinas Porabudpar Tasikmalaya, serta Badan Kesbangpol Kabupaten Ciamis dan Badan Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya.
Kehadiran lintas unsur ini menjadi gambaran bahwa SWAKKA tidak lahir dalam ruang tertutup, melainkan dalam ekosistem yang saling terhubung.
Kekuatan Kebersamaan
SWAKKA saat ini melibatkan 13 media dalam presidium dan 6 media mitra. Forum ini dibangun dari kesadaran sederhana: media lokal memiliki potensi besar, tetapi tantangan yang dihadapi tidak kecil.
Ketua Presidium SWAKKA, Ahmad Mukhlis, dalam pemaparannya menyoroti kekuatan nyata media anggota dari sisi performa digital. Berdasarkan akumulasi data mesin pencari, total impresi Google dari 13 media presidium mencapai lebih dari 9 juta impresi dalam satu bulan.
Impresi tersebut menunjukkan seberapa sering konten media anggota ditampilkan dalam hasil pencarian Google. Dengan rasio klik atau click through rate (CTR) sekitar 2,3 persen, angka itu setara dengan sekitar 207 ribu pembaca dalam satu bulan.
Artinya, ratusan ribu pengguna internet secara aktif mengakses dan membaca konten media yang tergabung dalam SWAKKA.
SWAKKA juga merancang empat kegiatan utama untuk memastikan kebersamaan itu produktif.
Pertama, Media Insight Forum, ruang diskusi dan literasi untuk membahas isu jurnalistik, media digital, dan perkembangan teknologi informasi.
Kedua, Support Exchange, wadah berbagi sumber daya, data, dan dukungan teknis antaranggota.
Ketiga, Collaborative Publishing Project, penerbitan konten kolaboratif lintas media agar satu isu dapat disajikan dengan perspektif lebih kaya dan jangkauan lebih luas.
Keempat, Journalistic Advocacy Support, program dukungan advokasi yang melibatkan sejumlah advokat untuk memperkuat dan melindungi kerja jurnalistik media anggota.
Melalui kombinasi data, kolaborasi konten, dan dukungan advokasi, SWAKKA ingin membuktikan bahwa solidaritas bukan sekadar slogan, tapi benar-benar berdampak.
Amanat Dewan Penasehat
Rangkaian deklarasi ditutup dengan tausyiah dari ulama dan tokoh masyarakat Jawa Barat yang juga penasihat SWAKKA, KH Miftah Fauzi.
Dalam penyampaiannya, KH Miftah menegaskan bahwa kehadirannya bukan formalitas.
“Saya menyengaja datang ke Tasikmalaya untuk menghadiri kegiatan SWAKKA. Saya jamin, media dan wartawan yang tergabung dalam komunitas binaan saya ini bukan tipe WTS alias wartawan tanpa surat kabar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan peserta. Ia ingin memastikan bahwa media yang tergabung memiliki identitas jelas, profesional, dan bukan sekadar papan nama. Semua media presidium SWAKKA juga sudah dipastikan memiliki kelengkapan legal formal.
KH Miftah juga mengungkapkan bahwa sebelum bersedia menjadi penasihat, dirinya telah menjalin komunikasi dengan para presidium SWAKKA. Dari komunikasi itu, ia melihat semangat besar media-media lokal untuk tumbuh menjadi media profesional.
Ia pun meminta pemerintah daerah—khususnya dari Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis—untuk ikut mendorong pertumbuhan SWAKKA. Ia meyakini forum ini dapat memberikan manfaat nyata bagi daerah jika didukung secara konstruktif.
Di akhir tausyiahnya, ia berpesan agar seluruh media anggota SWAKKA menjadi media yang terbuka dan mengedepankan komunikasi dengan lembaga-lembaga. Kritis, menurutnya, adalah bagian dari jurnalisme, tetapi etika tetap harus dijunjung. (AS)



