BerandaBerita TasikmalayaCampak di Tasikmalaya Tertinggi di Jabar, Warga Harus Waspada!

Campak di Tasikmalaya Tertinggi di Jabar, Warga Harus Waspada!

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kasus campak di Tasikmalaya menjadi sorotan setelah tercatat sebagai yang tertinggi di Jawa Barat pada awal 2026. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat menunjukkan, hingga minggu ke-11 tahun 2026, terdapat 258 kasus campak yang tersebar di 15 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, Kota Tasikmalaya menempati posisi paling tinggi.

Kepala Dinkes Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengonfirmasi kondisi tersebut. Ia menyebut lonjakan kasus tidak bisa dianggap sepele karena campak bukan sekadar penyakit ruam kulit, tetapi dapat memicu komplikasi serius hingga kematian.

“Kasus tertinggi ada di Kota Tasikmalaya. Untuk laporan meninggal, baru satu kasus yang terjadi di Cianjur,” ujar Vini kepada media, Selasa (07/04/2026).

Korban meninggal tersebut adalah seorang dokter internship berinisial AMW (26 tahun) yang wafat pada 26 Maret 2026 setelah menjalankan tugas di rumah sakit. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa campak juga dapat menyerang kelompok usia dewasa, termasuk tenaga kesehatan.

Lonjakan campak di Tasikmalaya tidak berdiri sendiri. Secara nasional, Kementerian Kesehatan mencatat terjadi 58 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di 39 kabupaten/kota. Pada awal tahun, jumlah kasus sempat melonjak hingga 2.740, sebelum kemudian menurun menjadi 177 kasus pada pekan ke-11 2026.

Meski tren nasional menunjukkan penurunan, kondisi di daerah tertentu seperti Tasikmalaya justru masih memerlukan perhatian serius. Hal ini diduga berkaitan dengan masih adanya celah imunisasi di masyarakat serta tingginya mobilitas penduduk.

Campak dikenal sebagai penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Virusnya menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Bahkan, virus ini dapat bertahan di udara hingga dua jam di ruangan tertutup, sehingga risiko penularannya semakin besar.

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak campak tidak hanya berhenti pada gejala awal seperti demam dan ruam merah. Dalam kasus tertentu, penyakit ini dapat menyebabkan radang otak (ensefalitis), radang paru (pneumonia), kebutaan, hingga gangguan pendengaran permanen.

Dinkes Jawa Barat juga mengungkap adanya risiko “amnesia imun”, yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh “lupa” melawan penyakit lain. Artinya, seseorang yang pernah terpapar campak bisa kehilangan perlindungan imun terhadap penyakit yang sebelumnya sudah pernah dicegah melalui vaksinasi.

“Ini yang paling berbahaya. Tubuh bisa kehilangan memori antibodinya,” kata Vini.

Sebagai respons atas meningkatnya kasus campak di Tasikmalaya, pemerintah mendorong pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI). Program ini merupakan imunisasi massal darurat yang diberikan kepada seluruh anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.

Kota Tasikmalaya menjadi salah satu daerah prioritas pelaksanaan ORI pada April 2026, bersama Kabupaten Garut. Kebijakan ini diambil berdasarkan tren peningkatan kasus dalam beberapa waktu terakhir.

Selain ORI, Dinkes juga menggenjot program Catch-Up Campaign (CUC) atau imunisasi kejar untuk anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak rubella secara lengkap. Program ini tengah berlangsung di sejumlah daerah di Jawa Barat dengan target cakupan hingga 100 persen.

Dari sisi logistik, pemerintah memastikan ketersediaan vaksin campak rubella masih mencukupi. Fasilitas kesehatan hanya tinggal menunggu distribusi alat suntik khusus (auto disable syringe/ADS) dari Kementerian Kesehatan untuk mendukung pelaksanaan imunisasi massal.

Di tingkat layanan kesehatan, seluruh puskesmas dan rumah sakit diminta meningkatkan kewaspadaan. Setiap kasus suspek campak wajib dilaporkan dalam waktu maksimal 24 jam untuk mempercepat penanganan dan mencegah penyebaran lebih luas.

Penanganan pasien juga dilakukan secara ketat. Penderita dianjurkan menjalani isolasi minimal tujuh hari sejak munculnya ruam, disertai pemberian vitamin A, asupan makanan bergizi tinggi, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Di sisi lain, masyarakat memiliki peran penting dalam menekan penyebaran campak di Tasikmalaya. Orang tua diminta segera memeriksa status imunisasi anak. Jika belum lengkap, imunisasi bisa segera dilakukan di posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan terdekat.

Imunisasi campak sendiri diberikan dalam tiga tahap, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 SD atau sederajat. Kelengkapan imunisasi menjadi kunci utama dalam membentuk kekebalan individu sekaligus kekebalan kelompok (herd immunity).

Dengan kondisi saat ini, peningkatan kasus campak di Tasikmalaya menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Tanpa langkah cepat dan kesadaran bersama, potensi penyebaran lebih luas masih terbuka.

Warga diimbau tidak menganggap remeh gejala awal campak. Jika ditemukan tanda seperti demam tinggi, batuk, mata merah, dan ruam kulit, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Karena dalam kasus campak, keterlambatan bukan sekadar risiko—tetapi bisa menjadi penyesalan. (AS)

RELATED ARTICLES

Terbaru