25 Hari di Mabdaul Ulum Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pagi itu mungkin tak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Matahari terbit seperti biasa, angin Bungursari berhembus pelan, dan halaman Pondok Pesantren Mabdaul Ulum Tasikmalay kembali dipenuhi langkah-langkah kecil para santri.
Namun, Selasa (17/03/2026) bukan hari biasa.
Hari itu adalah penutup dari perjalanan selama 25 hari, sebuah proses yang bukan sekadar rutinitas Ramadan, melainkan perjalanan sunyi membentuk disiplin, merapikan akhlak, dan menata ulang kebiasaan.
Selama hampir sebulan, waktu seolah dipadatkan. Hari-hari diisi dengan ritme yang teratur. Mulai dari bangun, belajar, beribadah, dan berlatih menahan diri, bukan hanya dari lapar, tetapi juga dari kebiasaan yang selama ini luput dari perhatian.
Dan alhamdulillah, hasilnya mulai tampak.
Sebanyak 95 persen peserta dinyatakan lulus dari program pembinaan ini. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari kesungguhan yang dijalani dengan konsisten.
Di antara ratusan santri itu, beberapa nama dipanggil ke depan. Dari setiap jenjang pendidikan—SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA—dipilih masing-masing tiga peserta terbaik. Mereka menerima trofi dan uang pembinaan.
Namun, yang dibawa pulang bukan hanya itu.
Lebih dari sekadar penghargaan, ada kebiasaan baru yang mulai tumbuh. Disiplin yang lebih rapi. Sikap yang lebih tertata. Dan akhlak yang perlahan menemukan bentuknya.

Di luar pagar Pesantren Mabdaul Ulum Tasikmalaya, dampaknya pun ikut terasa.
Selama 25 hari, kegiatan ini tak hanya berputar di dalam lingkungan pondok. Sekitar 6.000 paket takjil dibagikan kepada masyarakat. Sementara itu, 500 paket santunan disalurkan kepada anak yatim dan dhuafa.
Ramadan, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi ruang pembinaan diri, tetapi juga ruang berbagi.
Santri tidak hanya belajar menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga belajar hadir untuk orang lain.
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Mabdaul Ulum Tasikmalay, H. Aslim, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat.
Ucapan itu sederhana, namun penuh makna, sebuah pengakuan bahwa kegiatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan hasil dari gotong royong banyak pihak.
Harapannya pun tak muluk: semoga setiap kontribusi yang diberikan mendapat balasan kebaikan yang berlipat ganda.
Pada akhirnya, 25 hari mungkin terdengar singkat.
Namun di Mabdaul Ulum Tasikmalaya, waktu yang singkat itu akan menjadi proses yang panjang—proses yang meninggalkan jejak, bukan hanya di jadwal harian, tetapi juga dalam kebiasaan, sikap, dan cara memandang hidup.
Dan ketika gerbang kegiatan itu resmi ditutup, yang selesai sebenarnya bukan prosesnya.
Justru, bagi para santri, mungkin inilah awalnya. (AS)



