
lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Surat ini ditujukan untuk Dwi Sasetyaningtyas, salah seoarang negeri ini yang sedang belajar mengkhianati bangsanya sendiri.
Saudari,
Kalimatmu yang viral itu memang pendek.
Tapi faktanya, otakmu tak cukup mencerna dampak setelahnya.
“Cukup aku yang WNI. Anak-anakku jangan.”
Ia seperti ucapan ringan di sela-sela cerita. Tapi bagi banyak kepala, kalimat itu tak patut dibiarkan berlalu begitu saja.
Terlebih, ketika perjalananmu ke luar negeri bukan perjalanan pribadi sepenuhnya. Ada jejak banyak orang di situ.
Ada petani yang membayar pajak saat beli pupuk.
Ada nelayan yang membayar pajak saat beli solar.
Ada pengemudi ojek yang membayar pajak tiap isi bensin.
Ada buruh yang gajinya dipotong tiap bulan.
Mereka mungkin tidak tahu namamu.
Tak mau tahu juga nama kampusmu.
Tidak tahu nama profesor pembimbingmu.
Tapi mereka ikut membiayai tiketmu.
Mereka tidak pernah berkata,
“Cukup aku yang bayar pajak. Yang penting anak negeri ini bisa belajar.”
Mereka bayar saja. Diam-diam. Tanpa unggahan.
Kami paham. Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Itu naluri paling dasar. Tidak salah.
Tapi ketika seseorang tumbuh dengan biaya negara, lalu berkata masa depan terbaik adalah menjauh dari negara itu, wajar kalau orang bertanya-tanya.
Apakah Indonesia seburuk itu?
Apakah negeri ini hanya tempat berangkat, bukan tempat kembali yang pantas?
Engkau memilih Inggris? Baik.
Negeri itu memang tampak rapi, tertib, mapan. Setidaknya bagi orang-orang yang tak jarang baca, mungkin seperti kamu.
Memangnya di Inggris tidak ada masalah?
Lebih dari sembilan juta orang di Inggris hidup dalam kemiskinan serius. Jutaan lainnya terjebak utang. Ribuan orang bangkrut setiap bulan. Ada keluarga yang harus datang ke bank makanan agar bisa makan.
Anak-anak di sana pun ada yang tidur dalam kekurangan.
Kamu kira Indonesia terlalu gersang? Ternyata rumput di halaman sebelah juga perlu pupuk.
Dek,
Tidak ada negeri tanpa luka.
Tidak ada negara yang benar-benar bebas masalah.
Perbedaannya hanya satu:
Ada yang memilih tinggal dan memperbaiki.
Ada yang memilih pindah dan lupa diri. Seperti kamu.
Saudari,
Indonesia memang belum sempurna. Jalan masih berlubang. Teknologi tertinggal. Politik kadang ribut.
Tapi faktanya, negeri ini tetap membiayai anak-anaknya belajar ke luar negeri, seperti kamu. Itu bukan keputusan kecil. Itu tanda percaya.
Percaya bahwa setelah belajar tinggi, seseorang tidak akan lupa rendahnya tempat ia berdiri dulu.
Kami tidak mempersoalkan paspor anak-anakmu. Itu hakmu. Indonesia juga tidak akan bubar tanpa kamu dan anak-anakmu.
Yang terasa mengganjal adalah kalimatnya.
Karena ia terdengar seperti ini:
“Anakku jangan sampai jadi bagian sebuah negeri yang sudah membiayai pendidikanku.”
Mungkin itu bukan maksudmu.
Tapi begitulah bunyinya di telinga banyak orang.
Kami tidak marah.
Kami hanya ingin mengingatkan.
Negeri ini memang penuh pekerjaan rumah.
Justru karena itu ia butuh orang-orang terdidik.
Jika semua yang merasa mampu memilih pergi,
siapa yang akan tinggal untuk membenahi?
Tapi pasti masih ada, dan masih banyak anak negeri ini yang tahu diri.
Kamu, pantas disebut anomali.
Saudari,
Suatu hari nanti, ketika anak-anakmu bertanya,
“Ibu dulu sekolah pakai uang siapa?”
Semoga engkau bisa menjawab dengan tenang,
“Uang rakyat Indonesia!.”
Kecuali, selain menyakiti negeri sendiri, kamu juga memilih jadi manusia tak tahu diri!



