Waspada! Ini 5 Modus Kejahatan Siber Jelang Lebaran

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Kejahatan siber jelang Lebaran kembali menjadi perhatian publik. Setiap tahun, momen Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri selalu diikuti lonjakan aktivitas transaksi digital masyarakat.
Mulai dari belanja online, penukaran uang baru, pembayaran zakat, donasi online, hingga pembelian tiket mudik, semuanya kini bisa dilakukan secara daring. Praktis memang, tetapi di balik kemudahan itu tersimpan celah yang sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Direktorat Reserse Siber kepolisian mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital yang marak muncul saat menjelang Lebaran.
Pasalnya, pelaku kejahatan biasanya memanfaatkan dua hal yang sedang tinggi saat Ramadan: kebutuhan masyarakat dan emosi menjelang hari raya.
Singkatnya, saat orang sedang sibuk berburu diskon, menukar uang baru, atau menunaikan zakat, penipu juga ikut “sibuk”—bedanya, mereka berburu korban.
1. Penipuan Belanja Online dengan Promo Menggiurkan
Modus pertama yang paling sering muncul dalam kasus kejahatan siber jelang Lebaran adalah penipuan belanja online.
Biasanya pelaku membuat:
- website palsu
- akun media sosial palsu
- toko online fiktif
Kemudian mereka menawarkan promo Lebaran besar-besaran dengan harga yang sangat murah, bahkan jauh di bawah harga pasar.
Contohnya:
- smartphone diskon 70 persen
- pakaian Lebaran harga setengah
- paket hampers murah
Setelah korban tergiur dan melakukan transfer, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim.
Dalam banyak kasus, akun penjual langsung menghilang setelah menerima pembayaran.
Karena itu masyarakat diminta untuk selalu:
- membeli dari marketplace resmi
- mengecek reputasi penjual
- menghindari transfer langsung ke rekening pribadi yang tidak jelas.
2. Penipuan Penukaran Uang Baru
Menjelang Idul Fitri, tradisi berbagi uang baru kepada keluarga dan anak-anak membuat permintaan penukaran uang meningkat drastis.
Situasi ini juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber jelang Lebaran.
Modus yang sering digunakan antara lain:
- situs penukaran uang palsu
- pesan berantai di WhatsApp
- akun media sosial yang menawarkan jasa tukar uang cepat
Biasanya pelaku meminta korban untuk melakukan pembayaran terlebih dahulu sebagai biaya pemesanan atau administrasi.
Namun setelah transfer dilakukan, uang baru yang dijanjikan tidak pernah diterima.
Padahal secara resmi, penukaran uang baru biasanya dilakukan melalui:
- bank
- layanan resmi Bank Indonesia
- lembaga perbankan yang bekerja sama.
Artinya, jika ada tawaran tukar uang baru yang terlalu mudah dan cepat, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.



