Trump Dirujak! 8 Juta Demonstran di 3000 Lokasi Aksi

lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Gelombang protes raksasa mengguncang Amerika Serikat dan sejumlah negara dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026. Lebih dari 8 juta orang turun ke jalan dalam lebih dari 3.300 aksi yang tersebar di seluruh 50 negara bagian AS hingga ke berbagai kota internasional. Aksi bertajuk “No Kings” ini disebut sebagai demonstrasi satu hari terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Aksi ini bukan sekadar kumpul-kumpul sambil bawa poster “turun harga cabai”, melainkan gelombang perlawanan luas terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter. Demonstrasi terjadi serentak di kota-kota besar seperti New York, Washington DC, Chicago, hingga wilayah pedesaan yang sebelumnya relatif tenang secara politik.
Koalisi besar di balik gerakan ini melibatkan organisasi akar rumput seperti Indivisible, 50501, serikat buruh, hingga kelompok masyarakat sipil. Mereka mengusung isu yang beragam: mulai dari kebijakan imigrasi keras, konflik militer dengan Iran, hingga kenaikan biaya hidup yang makin menekan masyarakat.
Di beberapa titik, aksi berubah menjadi lautan manusia. Kota St. Paul, Minnesota, menjadi pusat perhatian dengan lebih dari 100 ribu hingga 200 ribu peserta dalam satu lokasi saja. Sementara di New York dan Los Angeles, puluhan ribu orang memenuhi jalanan dengan berbagai bentuk ekspresi—dari orasi politik, musik, hingga satire kreatif yang menyindir pemerintahan Trump.
Tak hanya warga biasa, sejumlah tokoh publik ikut turun tangan. Nama-nama seperti Bernie Sanders, Jane Fonda, hingga Bruce Springsteen ikut meramaikan aksi, mempertegas bahwa protes ini lintas generasi dan profesi.
Menariknya, demonstrasi ini tidak hanya terjadi di Amerika. Aksi solidaritas juga muncul di berbagai negara seperti Prancis, Jerman, hingga Australia, menandakan bahwa isu yang diangkat memiliki resonansi global.
Meski sebagian besar berlangsung damai, beberapa insiden bentrokan dengan aparat dilaporkan di kota seperti Los Angeles dan Denver. Namun secara umum, aparat menyatakan situasi relatif terkendali tanpa eskalasi besar.
Pihak Gedung Putih sendiri merespons dingin. Pemerintahan Trump menyebut aksi tersebut sebagai gerakan yang didorong kelompok tertentu dan tidak merepresentasikan mayoritas rakyat Amerika.
Namun di sisi lain, para pengamat menilai skala demonstrasi ini sebagai sinyal serius. Bukan hanya soal jumlah massa, tetapi juga karena aksi ini menunjukkan konsolidasi gerakan sipil yang semakin matang. Bahkan, ini merupakan kelanjutan dari dua aksi sebelumnya pada 2025 yang masing-masing sudah memecahkan rekor partisipasi.
Dengan angka mencapai jutaan orang dan ribuan titik aksi, pesan yang muncul cukup jelas: ketidakpuasan publik sedang berada di level tinggi. Dan kalau diibaratkan, ini bukan sekadar “demo biasa”, tapi seperti konser raksasa—bedanya, yang dinyanyikan bukan lagu cinta, melainkan kritik keras terhadap kekuasaan.
Sumber:





