Dunia

Reaksi Militer dan Eskalasi Konflik: Laporan Terbaru Krisis Iran-Israel–AS

lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat tajam setelah serangan udara besar pada 28 Februari 2026 yang menargetkan fasilitas militer serta infrastruktur penting Iran dalam operasi bernama Operation Lion’s Roar / Epic Fury. Serangan ini tidak hanya menewaskan pemimpin tertinggi Iran, tetapi juga memicu reaksi keras dari Teheran dan berbagai negara di kawasan.

Menurut laporan Wikipedia yang dirangkum dari berbagai media internasional, operasi militer itu mencakup serangan udara dan rudal di berbagai kota Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Natanz. Israel dan AS mengklaim operasi itu menargetkan pusat komando, fasilitas nuklir, serta jaringan pertahanan udara Iran.

Reaksi dari Teheran datang cepat: militer Iran menembakkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS serta wilayah Israel. Serangan rudal Iran dilaporkan menyasar fasilitas di Tel Aviv, Haifa, serta pangkalan AS di Teluk, sementara negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab juga menangkap ancaman rudal dan drone Iran.

Seorang pejabat militer Israel, Lt. Col. Nadav Shoshani dari Israel Defense Forces menyatakan bahwa operasi gabungan itu berhasil menewaskan puluhan komandan senior militer Iran dalam waktu singkat, menandai pukulan besar terhadap struktur komando militer Tehran.

Namun, eskalasi ini menunjukkan risiko besar bagi stabilitas regional. Ledakan dan sirene udara terdengar di berbagai negara sepanjang Teluk Persia, sementara beberapa rute lalu lintas udara sipil dan pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan terganggu oleh kekhawatiran keamanan.

Halaman selanjutnya: Ancaman Perang Berkepanjangan & Reaksi Internasional


Ancaman Perang Berkepanjangan & Reaksi Internasional

Potensi eskalasi konflik kini mengalihkan perhatian dunia tidak hanya pada aksi militer, tetapi juga risiko perang berkepanjangan di kawasan. Iran, melalui Presiden Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa membalas serangan itu adalah “hak dan kewajiban yang sah”, mengisyaratkan kemungkinan gelombang serangan lanjutan terhadap target militer Israel dan sekutu.

Serangan timbal balik Iran telah memicu sorotan global. Laporan dari Associated Press mencatat bahwa serangan rudal dan drone Iran telah menimbulkan korban di Israel dan beberapa negara Teluk, memaksa negara-negara tersebut meningkatkan kesiagaan militer.

Reaksi internasional sangat beragam. Beberapa negara Barat menyerukan de-eskalasi dan dialog diplomatik segera, sementara negara-negara lain mengutuk serangan dan mengkhawatirkan dampaknya terhadap keamanan global.

China, melalui Kementerian Luar Negeri, menyuarakan permintaan gencatan senjata segera dan menghormati kedaulatan Iran, juga mengimbau warganya untuk meninggalkan wilayah konflik demi keselamatan.

Kondisi lapangan juga menunjukkan potensi efek terhadap warga sipil. Dalam serangan February 28 US–Israel strikes on Iran, sebuah sekolah dasar di Minab hancur akibat rudal yang menewaskan puluhan murid, menurut laporan setempat yang dilaporkan oleh The Washington Post dan pihak sekolah setempat.

Para analis menyatakan bahwa konflik ini bisa berkembang menjadi perang terbuka jika jalur diplomatik tidak segera dimaksimalkan. Risiko ini meningkat karena dua hal: pertama, konflik kini melibatkan uji coba kekuatan militer dan sensitivitas wilayah strategis seperti Selat Hormuz; kedua, reaksi lintas negara terhadap serangan Iran semakin terlihat, termasuk kekhawatiran infrastruktur Lebanon menjadi target bila konflik terus memburuk.

Dampak konflik melampaui medan perang: harga energi global menunjukkan volatilitas tinggi, investor internasional menilai risiko pasokan minyak meningkat, sementara badan keamanan internasional menyerukan pertemuan darurat untuk menghindari perluasan konflik ke skala lebih luas. (AS)

Related Articles

Baca juga:
Close
Back to top button