Aslina! Postingan Disdukcapil Ciamis di Medsos Bikin Ngakak

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Postingan akun resmi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Ciamis baru-baru ini menyedot perhatian warganet. Bukan karena layanan baru atau pengumuman administratif yang kaku, melainkan karena kemasan visual dan narasinya yang ringan, pop, dan tak biasa. Singkatnya: bikin ngakak!
Dalam unggahan tersebut, Disdukcapil Ciamis mengingatkan warga agar kolom pekerjaan di KTP diisi sesuai ketentuan. Pesan itu dikemas dengan ilustrasi bernuansa budaya pop yang menyentil, menyebut contoh pekerjaan fiktif atau hiperbolik yang kerap muncul sebagai peran dalam film-film drama China. Padahal, sesuai regulasi, kolom pekerjaan KTP hanya boleh diisi berdasarkan daftar resmi yang jumlahnya mencapai 99 jenis pekerjaan.
Unggahan ini pun ramai dibicarakan. Ada yang memuji kreativitasnya, ada pula yang menyoroti aspek teknis komunikasi publiknya. Namun satu hal pasti: pesannya sampai dan dibaca.
Edukatif, tapi Bisa Lebih Lengkap
Secara substansi, pesan yang disampaikan Disdukcapil Ciamis dinilai tepat. Pengisian data pekerjaan dalam dokumen kependudukan bukan hal sepele karena berkaitan dengan validitas basis data nasional, yang berdampak pada banyak sektor layanan publik.
Namun, menurut Abu Ayyub, pemegang sertifikat resmi Digital Marketing dari Google, akan jauh lebih kuat jika unggahan tersebut turut menyertakan daftar 99 jenis pekerjaan resmi. Dengan begitu, imbauan tidak berhenti pada larangan, melainkan disertai solusi konkret. Warga tidak hanya diingatkan apa yang tidak boleh, tetapi juga diberi panduan jelas tentang pilihan yang diperbolehkan.
Manurut Abu Ayyub yang saat ini menajdi SEO Master di Lintas Priangan, pendekatan semacam ini dinilai mampu meningkatkan fungsi edukatif akun pemerintah daerah, dari sekadar penyampai imbauan menjadi sumber literasi administrasi kependudukan yang utuh.
Desain Kreatif, Tapi Belum Maksimal
Dari sisi visual, unggahan tersebut dinilai kreatif dan berani keluar dari pakem komunikasi pemerintah yang umumnya kaku dan formal. Namun, secara teknis desain, masih ada catatan.
“Ide besar dari unggahan Disdukcapil Ciamis sudah tepat sasaran, namun eksekusinya masih bisa ditingkatka,” ujar Abu Ayyub.
Menurutnya, secara visual terlihat adanya penumpukan elemen tanpa hierarki yang kuat. Dimensi desain juga belum sepenuhnya optimal dengan ruang tampilan Facebook, sehingga menyisakan area kosong yang mengurangi daya tarik visual. Dengan penataan grid yang lebih rapi, fokus visual yang jelas, serta penyesuaian rasio untuk platform media sosial, konten serupa berpotensi menjadi jauh lebih “clickable” dan kuat secara distribusi.
Kreatif dan Perlu Ditiru Pemerintah Daerah
Meski demikian, pendekatan Disdukcapil Ciamis ini justru dinilai sebagai angin segar. Abu Ayyub melihat unggahan tersebut sebagai contoh bahwa informasi pemerintah tidak harus selalu disampaikan dengan bahasa kaku dan formal.
Di tengah banjir konten media sosial, pesan pemerintah yang disampaikan secara ringan dan relevan dengan budaya digital justru memiliki peluang lebih besar untuk dibaca dan dipahami. Selama substansinya benar dan tidak menyesatkan, kreativitas dinilai sebagai nilai tambah, bukan masalah.
Pendekatan seperti ini bahkan dianggap layak diperbanyak oleh pemerintah daerah lain, mengingat masih banyak akun resmi yang menyampaikan informasi penting dengan cara yang terlalu birokratis dan minim konteks.
Visual Pop, Caption Perlu Senada
Catatan lain yang mengemuka adalah soal keselarasan antara visual dan teks. Visual unggahan Disdukcapil Ciamis dinilai sudah mengarah ke humor-edukatif, namun caption yang menyertainya masih terasa administratif dan normatif.
Ketidaksinkronan ini membuat pesan terasa sedikit jomplang. Dalam komunikasi publik digital, visual dan teks idealnya berjalan dalam satu nada agar pesan mengalir utuh. Jika visual sudah santai dan pop, maka narasi teks pun sebaiknya mengikuti irama yang sama, tanpa kehilangan ketepatan informasi.
Menarik Perhatian Generasi Muda
Dari sudut pandang audiens muda, pendekatan seperti ini justru dinilai efektif. Muhammad Rafli, siswa SMA asal Kecamatan Sindangkasih, Ciamis, mengaku lebih tertarik pada konten informasi pemerintah yang dikemas ringan dan visualnya pop.
Menurutnya, konten dengan gaya seperti itu lebih mudah dipahami dan tidak membosankan, terutama bagi pelajar yang sehari-hari akrab dengan media sosial. Informasi serius, kata Rafli, justru lebih mudah masuk ketika disampaikan dengan cara yang santai.
“Aslina, pas pertama lihat bener-bener bikin ngakak!” tegas Rafli.
Bukan Sempurna, Tapi Layak Diapresiasi
Secara keseluruhan, unggahan Disdukcapil Ciamis ini dinilai tidak melanggar aturan maupun etika pelayanan publik. Pesan hukumnya jelas, niat edukasinya kuat, dan keberaniannya bereksperimen patut diapresiasi.
Meski masih menyisakan ruang perbaikan—terutama pada aspek desain, kelengkapan informasi, dan keselarasan tone—konten ini menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah daerah bisa relevan dengan zamannya.
Di tengah citra informasi pemerintah yang kerap dianggap kaku, langkah Disdukcapil Ciamis ini setidaknya membuktikan satu hal: aturan bisa disampaikan dengan senyum, tanpa kehilangan makna. (HS)



