DKKC Dorong Budaya Sunda Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Jejak panjang sejarah Kerajaan Galuh hingga kehidupan masyarakat yang religius menjadi kekuatan budaya yang terus hidup di Kabupaten Ciamis. Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai tersebut kini ditegaskan kembali sebagai fondasi arah pemajuan kebudayaan.
Momentum itu mengemuka saat kunjungan kerja Panitia Khusus (Pansus) DPRD Provinsi Jawa Barat ke Kabupaten Ciamis dalam rangka penyusunan Peraturan Daerah (Perda) Pemajuan Kebudayaan, Kamis (26/03/2026).
Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis (DKKC), Dr. Yat Rospia, menegaskan, budaya tidak boleh berhenti sebagai warisan, tetapi harus terus hidup dan berkembang mengikuti zaman.
“Budaya harus tetap tumbuh. Akulturasi bukan ancaman, justru peluang, selama kita tetap berpijak pada nilai-nilai kesundaan,” katanya.
Harmoni Budaya dan Religiusitas
Dijelaskan Dian, di Kabupaten Ciamis, budaya tidak berdiri sendiri. Tradisi dan nilai religius berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat. Keterlibatan tokoh agama dalam kegiatan adat menjadi salah satu kekuatan yang menjaga keseimbangan sosial sekaligus memperkuat penerimaan masyarakat terhadap budaya lokal.
“Harmoni inilah yang menjadikan Ciamis memiliki karakter budaya yang khas dan dinilai layak menjadi rujukan di tingkat Jawa Barat,” jelasnya.

Budaya Harus Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari
Kepala Disbudpora Ciamis, Dr. Dian Budiyana, menegaskan, pemajuan kebudayaan tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi harus hadir dalam praktik nyata.
Mulai dari penggunaan bahasa Sunda di ruang publik dan pemerintahan, ornamen khas Sunda pada bangunan, hingga penguatan tradisi lokal sebagai bagian dari agenda resmi daerah.
“Budaya harus hadir dalam keseharian, bukan hanya seremoni,” tegasnya.
Menuju Perda yang ‘Sunda Banget’
Diskusi bersama Pansus DPRD Jawa Barat juga menguatkan harapan agar regulasi yang disusun benar-benar mencerminkan karakter lokal.
Perda Pemajuan Kebudayaan diharapkan tidak bersifat umum, melainkan memiliki kekhasan yang kuat “Sunda banget”.
BACA JUGA: Sensus Ekonomi 2026, Bupati Ciamis Sebut Data Jadi Penentu Kebijakan
Dalam konteks ini, DKKC diposisikan sebagai penjaga sekaligus penggerak, yang memastikan budaya Sunda tidak hanya lestari, tetapi juga relevan di tengah perubahan zaman.
Menjaga Identitas di Tengah Arus Zaman
Pertemuan ini menegaskan satu hal, budaya bukan sekadar masa lalu, tetapi identitas yang harus terus dirawat dan dikembangkan.
Ciamis, dengan akar sejarah dan kekuatan nilai lokalnya, berupaya menjaga agar budaya Sunda tetap hidup, tumbuh, dan menjadi kebanggaan di tengah derasnya modernisasi. (FSL)





