Bupati Ciamis: “Wajib Hukumnya Bela PPPK!”

lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Di sebuah rumah sederhana, seorang perempuan duduk diam di ruang tamu yang sangat sederhana. Tangannya menggenggam ponsel. Layar kecil itu memutar sebuah video pendek dari TikTok.
Ia tidak sedang mencari hiburan.
Ia sedang mencari harapan.
Suaminya adalah seorang PPPK.
Beberapa hari terakhir, kegelisahan itu terasa nyata. Bukan sekadar kabar, tapi seperti bayangan yang ikut duduk di ruang makan, ikut menemani saat anak-anak bertanya hal sederhana, “Ayah kerja terus kan?”
Di layar ponsel itu, terlihat sosok Bupati Ciamis, H. Herdiat Sunarya. Ia sedang diwawancarai wartawan. Topiknya tidak ringan, tentang pembatasan belanja pegawai yang kini menjadi tekanan di banyak daerah.
Perempuan itu memperbesar volume.
Ia mendengarkan dengan saksama.
Bupati Ciamis tidak menghindar dari kenyataan. Ia mengakui bahwa belanja pegawai di daerahnya memang sudah melampaui batas yang ditentukan. Ia bicara tentang evaluasi yang harus dilakukan, tentang kondisi yang tidak mudah.
Namun sejak awal, arah sikapnya terasa jelas.
Ia tidak sedang mencari alasan untuk mengurangi jumlah pegawai.
Ia sedang mencari cara untuk mempertahankan.
“Harus benar-benar dievaluasi dulu. Kita nggak bisa memberhentikan PPPK,” ucap Bupati Ciamis dalam video itu.
Perempuan itu menatap layar lebih lama.
Kalimat dari Bupati Ciamis terdengar sederhana. Tapi di telinganya, terdengar seperti perlindungan.
Bupati Ciamis juga menjelaskan bahwa daerah masih membutuhkan pegawai. Terutama di sektor pendidikan dan kesehatan, dua bidang yang tidak bisa ditunda, tidak bisa dikompromikan.
Tentang generasi emas yang sering disebut-sebut, katanya, itu bukan sesuatu yang bisa dibangun secara instan. Harus terukur, terprogram, dan direncanakan dengan baik. Dan semua itu membutuhkan orang, butuh pegawai yang cukup, yang bekerja, yang mengabdi.
Video itu berjalan terus.
Lalu datang pertanyaan dari wartawan, pertanyaan yang mungkin juga ada di kepala banyak orang:
Apa pesan untuk PPPK yang sedang gelisah?
Perempuan itu tanpa sadar menahan napas.
Bupati Ciamis menjawab pelan,
“Berdoa saja lah, mudah-mudahan kita bisa mengatasi masalah ini. Kalau bicara berat ya memang berat…”
Sedetik kemudian, nada suara Bupati Ciamis berubah.
Sorot matanya meruncing. Wajahnya mengeras, bukan karena marah, tapi seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang lebih dalam.
“Tapi kita wajib upaya. Kita wajib ikhtiar…” tegas.
Ada jeda kecil.
“…wajib hukumnya membela…”
Kalimat itu tidak selesai.
Namun maknanya terasa utuh.
Seolah ada kata yang sengaja tidak diucapkan, tapi semua orang tahu ke mana arahnya.
Perempuan itu tidak kuat lagi.
Matanya membasah. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.
Bukan karena sedih semata.
Tapi karena merasa, akhirnya ada yang berdiri di sisi yang sama, memperjuangkan nasib suaminya.
Video itu selesai.
Namun perasaan itu tidak ikut selesai.
Ia menatap ponselnya lama. Lalu perlahan mematikannya.
Sayangnya, ia bukan tinggal di Kabupaten Ciamis.
Ia adalah istri dari seorang PPPK yang bekerja di daerah tetangga Kabupaten Ciamis.
Dan di tempatnya, ia belum menemukan keberpihakan seperti di Ciamis.
Belum ada sikap setegas itu.
Belum tentu ada keberpihakan yang terasa sedekat itu.
Ia menarik napas panjang.
Lalu berbisik pelan, hampir seperti doa:
“Ya Allah… semoga pimpinan di tempat suami saya bekerja… bisa seperti Bupati Ciamis.”
Berita Ciamis lainnya: Daripada PHK PPPK: Evaluasi Dinkes Ciamis dan Bappelitbangda Kota Tasikmalaya
Di luar sana, angka-angka mungkin terus dihitung.
Anggaran mungkin terus disesuaikan.
Tapi di dalam rumah-rumah seperti miliknya,
yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan.
Melainkan keberanian untuk berada di sisi yang sama.





