Beranda blog Halaman 6

ASN Bapenda Ciamis Gencarkan “Jumat Bersih”

0

lintaspriangan.com. BERITA ​CIAMIS. Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Ciamis membuktikan kalau dedikasi tidak hanya terbatas pada pelayanan administrasi dan pajak, tetapi juga pada pemeliharaan lingkungan.

Tanpa membedakan jabatan atau divisi, para ASN bekerja bersama-sama sejak apel pagi. Puluhan pegawai Bapenda turun langsung menyisir area kantor hingga kawasan publik dalam aksi “Jumat Bersih”. Aksi ini menyasar titik-titik vital mulai dari area kantor Bapenda, Mess Pemerintah Daerah (Pemda), hingga kawasan ikonik Islamic Center Ciamis.

Mereka membersihkan setiap sudut mulai dari halaman kantor yang sering digunakan hingga area tersembunyi yang jarang terjangkau, mengumpulkan sampah, membersihkan rumput liar, dan menata lingkungan agar lebih nyaman bagi siapa saja yang menggunakannya, Jumat (27/03/2026).

​Kepala Bapenda Kabupaten Ciamis, Dr. Aef Saefuloh mengatakan, gerakan ini adalah upaya menanamkan budaya malu jika lingkungan kotor. Menurutnya, ASN memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi kompas bagi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

BACA JUGA: BPOM Tasikmalaya Beberkan 8 Jenis Obat Yang Dipalsukan

​”Jumat Bersih ini adalah bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif. ASN harus menjadi contoh nyata bagi masyarakat. Jika kita ingin mengajak warga menjaga kebersihan, maka kita harus memulainya dari diri sendiri dan lingkungan kerja kita,” katanya.

Dijelaskannya, Jumat Bersih sebagai bagian dari instruksi Bupati Ciamis yang dilaksanakan secara rutin, Jum’at Bersih diharapkan mampu menciptakan efek domino di kalangan masyarakat.

“Adanya kontribusi ASN dalam menjaga kebersihan, diharapkan semakin banyak warga yang turut berperan aktif dalam memelihara lingkungan sekitar, sehingga Kabupaten Ciamis dapat tumbuh menjadi daerah yang bersih, maju, berkelanjutan, dan menjadi kebanggaan bersama,” ungkapnya. (FSL)

IG Wali Kota Tasikmalaya Posting Prakiraan Cuaca: Gabut?

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.  Cuaca ekstrem yang melanda Kota Tasikmalaya dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar peringatan di atas kertas. Berdasarkan informasi yang beredar di berbagai media, pada Jumat (27/03/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya mencatat lebih dari 20 titik bencana akibat hujan deras disertai angin kencang.

Dari jumlah tersebut, lebih dari separuh kejadian didominasi pohon tumbang, sementara sisanya berupa kerusakan rumah, gangguan jaringan listrik, hingga akses jalan yang sempat terganggu. Beberapa kejadian bahkan menimpa kendaraan warga, menambah daftar dampak nyata dari cuaca ekstrem yang terjadi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peringatan cuaca bukan lagi sekadar potensi, melainkan sudah bertransformasi menjadi kejadian riil di lapangan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sehari berselang, tepatnya hari ini, Sabtu (29/03/2026), Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, melalui akun Instagramnya membagikan informasi prakiraan cuaca untuk periode 29–31 Maret 2026. Dalam unggahan tersebut, disampaikan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Kota Tasikmalaya, lengkap dengan rincian per kecamatan.

Langkah ini tentu dapat dibaca sebagai bentuk kepedulian pimpinan daerah. Di tengah situasi bencana, wali kota berupaya hadir dan mengingatkan warga agar lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem lanjutan.

Namun di titik ini pula muncul ruang refleksi.

Informasi prakiraan cuaca sejatinya merupakan informasi teknis yang secara rutin telah disediakan oleh BMKG, baik melalui website, aplikasi, maupun kanal media sosial. Selain itu, BPBD sebagai garda terdepan penanganan kebencanaan juga memiliki fungsi strategis dalam menyebarluaskan peringatan dini kepada masyarakat. Bahkan, jika ingin menjangkau lebih luas, jaringan komunikasi hingga tingkat kelurahan dan RW pun bisa dioptimalkan.

Pertanyaannya kemudian menjadi relevan:
apakah penyampaian informasi teknis seperti prakiraan cuaca memang harus dilakukan langsung oleh seorang wali kota?

Dalam konteks komunikasi publik, terutama saat menghadapi situasi krisis, seorang kepala daerah sejatinya berada pada level komunikasi strategis. Idealnya, ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memberi arah, memastikan koordinasi, serta menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.

Di sinilah letak perbedaan antara “komunikasi informatif” dan “komunikasi leadership”.

Alih-alih berhenti pada penyampaian prakiraan cuaca, pesan yang lebih strategis dari seorang wali kota bisa berupa:

  • memastikan kesiapsiagaan tim di titik-titik rawan
  • memberikan imbauan spesifik bagi wilayah terdampak
  • menyampaikan langkah konkret pemerintah dalam mitigasi
  • atau membuka kanal darurat yang bisa langsung diakses warga

Pesan-pesan semacam ini tidak hanya informatif, tetapi juga memberi kepastian dan arah di tengah situasi yang tidak menentu.

Ketua Komunitas Media SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif), Akhmad Muhlis, menilai bahwa kehadiran wali kota dalam ruang digital tetap penting, namun perlu diiringi dengan penguatan substansi pesan.

“Ini langkah yang baik sebagai bentuk kepedulian. Artinya wali kota hadir dan tidak abai terhadap situasi. Tapi akan lebih kuat jika pesan yang disampaikan tidak hanya informatif, melainkan juga strategis—memberi arah dan menunjukkan langkah konkret pemerintah. Misalnya ya, saya kira Pak Wali bisa saja di akun medsosnya bicara, bahwa untuk tiga hari ke depan, beliau meminta para Camat dan Lurah tidak ada yang keluar daerah, harus standby di wilayahnya masing-masing. Ini kan lebih bersifat strategis,” ujar Muhlis.

Menurutnya, di era ketika informasi sudah sangat melimpah dan mudah diakses, nilai lebih dari komunikasi seorang pemimpin justru terletak pada makna dan kejelasan arah, bukan sekadar distribusi informasi.

“Setidaknya ada celah interpretasi yang kurang sedap ketika wali kota justru bermain di ranah teknis. Nanti dikira postingannya cuma gabut,” tambah Muhlis.

Meski demikian, langkah yang diambil Wali Kota Tasikmalaya tetap patut diapresiasi. Setidaknya, unggahan tersebut menunjukkan adanya respon dan kepedulian terhadap situasi cuaca ekstrem yang tengah dihadapi warga.

“Meski saya sebenarnya tidak yakin postingan tersebut sudah melibatkan Dinas Kominfor karena memang tidak ada logo kominfo, padahal dia SKPD yang tentu faham tentang komunikasi publik. Tapi setidaknya, dengan postingan tersebut, warga tahu wali kota ada dan sedang memberikan perhatian pada potensi bencana,” jelas Muhlis.

Di tengah dinamika bencana yang bisa datang sewaktu-waktu, kehadiran pemimpin—dalam bentuk apa pun—tetap menjadi hal penting. Tinggal bagaimana ke depan, kehadiran itu tidak hanya terasa, tetapi juga lebih strategis. Karena untuk hal-hal teknis, sebenarnya sudah banyak sumber daya yang bersiaga.

“Mereka tinggal nunggu peluit dari Pak Wali,” pungkas Muhlis.

BPOM Tasikmalaya Beberkan 8 Jenis Obat yang Kerap Dipalsukan di Pasaran

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui BPOM Tasikmalaya kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran obat palsu yang masih menjadi ancaman serius di tengah tingginya kebutuhan produk kesehatan. Imbauan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya edukasi publik agar masyarakat lebih cermat dalam memilih obat yang aman dan legal.

Dalam kampanye terbarunya, BPOM Tasikmalaya menekankan bahwa peredaran obat palsu tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga berpotensi menyasar daerah seperti Tasikmalaya, terutama melalui jalur distribusi tidak resmi maupun penjualan daring. Kondisi ini diperparah dengan masih adanya kebiasaan masyarakat yang membeli obat tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.

BPOM Tasikmalaya menjelaskan bahwa obat palsu kerap dibuat menyerupai produk asli, baik dari segi kemasan, warna, hingga bentuk tablet atau kapsul. Namun, di balik tampilannya yang meyakinkan, kandungan obat tersebut tidak dapat dipastikan kualitas dan keamanannya. Dalam banyak kasus, obat palsu tidak mengandung zat aktif sesuai standar, bahkan bisa mengandung bahan berbahaya yang berisiko menimbulkan efek samping serius.

Sebagai langkah pencegahan, BPOM Tasikmalaya mengimbau masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip Cek KLIK—Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa—sebelum membeli atau mengonsumsi obat. Prinsip ini dinilai sebagai cara paling sederhana namun efektif untuk memastikan keaslian produk.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan teknologi digital melalui aplikasi BPOM Mobile dan situs resmi cekbpom.pom.go.id. Dengan fitur yang tersedia, masyarakat dapat dengan mudah memverifikasi legalitas obat hanya dengan memasukkan nomor izin edar atau memindai kemasan produk.

BPOM Tasikmalaya juga mengingatkan agar masyarakat tidak tergiur dengan harga murah atau klaim berlebihan yang sering ditemukan dalam penawaran obat, terutama di platform online. Produk dengan harga jauh di bawah pasaran patut dicurigai karena bisa jadi merupakan obat ilegal atau palsu.

Lebih lanjut, BPOM menegaskan bahwa pengawasan terhadap peredaran obat tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk memutus rantai distribusi obat palsu. Kesadaran untuk selalu melakukan pengecekan sebelum membeli menjadi kunci utama dalam melindungi diri dan keluarga.

Dalam publikasi tersebut, BPOM Tasikmalaya akhirnya mengungkap delapan jenis obat yang paling sering menjadi sasaran pemalsuan di pasaran. Produk-produk ini umumnya memiliki tingkat permintaan tinggi, sehingga kerap dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Adapun delapan jenis obat yang dimaksud adalah Viagra, Cialis, Ventolin Inhaler, Dermovate, Ponstan, Tramadol Hydrochloride, Hexymer, serta Trihexyphenidyl Hydrochloride.

Berita sebelumnya: Waspada Peredaran Obat Palsu di Tasikmalaya, Ini Cara Cek Produk Asli

Dengan adanya informasi ini, BPOM Tasikmalaya berharap masyarakat semakin waspada dan tidak lagi bersikap spekulatif dalam memilih obat. Di tengah kemudahan akses pembelian saat ini, memastikan keaslian produk bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Sebab dalam urusan kesehatan, kesalahan kecil bisa berujung besar—dan yang palsu bukan cuma obatnya, tapi juga rasa aman yang kita kira sudah kita punya.

Waspada Peredaran Obat Palsu di Tasikmalaya, Ini Cara Cek Produk Asli

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui BPOM Tasikmalaya mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Peredaran Obat Palsu di Tasikmalaya yang masih berpotensi terjadi di tengah tingginya kebutuhan obat di pasaran.

Dalam kampanye edukasi terbarunya, BPOM Tasikmalaya menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh lagi bersikap spekulatif saat membeli obat. Keaslian produk harus dipastikan melalui sumber resmi agar terhindar dari risiko kesehatan yang serius.

BPOM Tasikmalaya memperkenalkan Kanal Komunikasi Risiko yang dapat diakses publik untuk memperoleh informasi lengkap terkait obat palsu. Kanal ini berisi edukasi tentang ciri produk asli, pola distribusi obat ilegal, dampak yang ditimbulkan, hingga langkah penindakan hukum yang telah dilakukan oleh otoritas.

Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran atas Peredaran Obat Palsu di Tasikmalaya, yang tidak hanya merugikan secara ekonomi tetapi juga berpotensi membahayakan nyawa. Obat palsu kerap kali tidak mengandung zat aktif sesuai standar, bahkan dalam beberapa kasus mengandung bahan berbahaya yang dapat memicu efek samping serius.

Selain kanal informasi, BPOM Tasikmalaya juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan teknologi melalui aplikasi BPOM Mobile dan situs resmi cekbpom.pom.go.id. Melalui platform tersebut, masyarakat dapat dengan mudah memverifikasi legalitas produk hanya dengan memindai kemasan atau memasukkan nomor izin edar.

BPOM Tasikmalaya kembali menekankan pentingnya prinsip Cek KLIK—Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa—sebagai langkah sederhana namun efektif untuk menghindari produk ilegal. Edukasi ini dinilai krusial mengingat masih banyak masyarakat yang membeli obat tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.

Dalam rilisnya, BPOM juga mengungkap sejumlah produk yang sering menjadi sasaran pemalsuan. Produk-produk tersebut umumnya memiliki permintaan tinggi di pasar, sehingga dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan secara ilegal. Kondisi ini semakin memperkuat urgensi pengawasan terhadap Peredaran Obat Palsu di Tasikmalaya.

BPOM Tasikmalaya menegaskan bahwa pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Kesadaran untuk melakukan pengecekan sebelum membeli obat menjadi kunci utama dalam memutus rantai distribusi produk palsu.

Dengan kemudahan akses digital saat ini, BPOM menilai tidak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk tidak melakukan verifikasi. “Jangan ditebak-tebak,” menjadi pesan utama dalam kampanye tersebut, mengingat satu langkah pengecekan dapat mencegah risiko besar terhadap kesehatan.

Baca juga: BPOM Tasikmalaya Beberkan 8 Jenis Obat yang Kerap Dipalsukan di Pasaran

Melalui imbauan ini, BPOM Tasikmalaya berharap masyarakat semakin cerdas dan kritis dalam memilih produk kesehatan. Kewaspadaan kolektif dinilai sebagai benteng utama dalam menekan Peredaran Obat Palsu di Tasikmalaya yang hingga kini masih menjadi ancaman nyata.

Di tengah maraknya transaksi obat secara online maupun offline, memastikan keaslian produk bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Sebab dalam urusan kesehatan, yang palsu bukan cuma obatnya—risikonya juga bisa “asli” dan serius. (AS)

Garudayaksa vs Bekasi City: Duel Penentu Papan Atas Championship Indonesia

lintaspriangan.com, SPORT. Pertandingan Garudayaksa vs Bekasi City akan menjadi salah satu laga paling menentukan pada lanjutan Championship Indonesia Babak 22. Duel ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Maret 2026 pukul 15.30 WIB di Stadion Pakansari, Cibinong, dengan kapasitas sekitar 30 ribu penonton. Atmosfer stadion diprediksi memanas, seiring pentingnya hasil akhir bagi kedua tim yang sama-sama memburu posisi terbaik di klasemen.

Garudayaksa saat ini menempati peringkat kedua dengan koleksi 38 poin dari 21 pertandingan. Sementara itu, Bekasi City berada tepat di bawahnya di posisi keempat dengan 36 poin dari jumlah laga yang sama. Selisih dua angka membuat pertandingan ini memiliki dampak langsung terhadap perubahan posisi papan atas, sekaligus membuka peluang besar bagi tim pemenang untuk memperkuat langkah menuju fase promosi.

Secara performa, Garudayaksa menunjukkan grafik yang relatif stabil dalam beberapa pertandingan terakhir. Mereka mencatat dua kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan. Hasil imbang tanpa gol saat menghadapi PSPS Riau pada laga terakhir menjadi gambaran bahwa lini pertahanan masih cukup solid, meskipun efektivitas serangan belum sepenuhnya optimal.

Di sisi lain, Bekasi City datang dengan tren yang lebih meyakinkan. Empat kemenangan dari lima pertandingan terakhir menjadi sinyal kuat bahwa tim ini sedang berada dalam momentum positif. Kemenangan 2-1 atas PSMS Medan pada laga sebelumnya semakin mempertegas konsistensi performa mereka, terutama dalam memanfaatkan peluang di lini depan.

Pertemuan terakhir kedua tim pada 10 Januari 2026 berakhir imbang 1-1. Hasil tersebut mencerminkan kekuatan yang relatif berimbang, sekaligus memberi gambaran bahwa laga kali ini berpotensi berlangsung ketat dengan intensitas tinggi sejak menit awal.

Halaman selanjutnya: Kepentingan Besar dua Kesebelasan


Pengerukan Pasir Sungai: Kencang di Larangan, Sunyi di Solusi

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Saat hujan turun deras, air sungai tak lagi sekadar mengalir—ia berlari. Debit meningkat cepat, permukaan naik perlahan tapi pasti, hingga mendekati bibir tebing. Di titik itulah kecemasan warga berubah menjadi tindakan. Mereka turun ke sungai, membawa sekop, melakukan pengerukan pasir sungai untuk mengurangi pendangkalan yang kian terasa.

Bukan untuk kaya. Tapi untuk bertahan.

Di banyak tempat, praktik pengerukan pasir sungai secara mandiri ini berulang: kerja bakti yang lahir dari rasa waswas. Sungai yang semakin dangkal membuat air kehilangan ruang. Sedikit saja hujan deras, dan ancaman meluap sudah di depan mata. Warga membaca situasi itu dengan sederhana, kalau dangkal, harus didalamkan.

Namun, aktivitas pengerukan pasir sungai kini dipersoalkan. Pengerukan dianggap melanggar, bahkan berpotensi disalahgunakan karena sebagian hasilnya diduga diperjualbelikan. Larangan pun datang, tegas dan tanpa kompromi.

Persoalannya, ancaman yang dihadapi warga tidak ikut berhenti.

Di sinilah masalahnya. Pengerukan pasir sungai oleh warga memang bisa bermasalah secara aturan, tetapi lahir dari situasi yang tidak normal. Warga mungkin keliru dalam cara, tetapi mereka tidak keliru dalam membaca bahaya. Ketika air nyaris meluap ke permukiman, reaksi spontan menjadi tak terhindarkan.

Yang patut dipertanyakan justru: mengapa warga harus melakukan pengerukan pasir sungai sendiri tanpa kehadiran solusi yang terstruktur?

Halaman selanjutnya: Akar Masalah Itu di Hulu, Bukan di Hilir!


Ribuan PPPK Kota Tasikmalaya Terancam PHK, Kinerja Sekda Dinilai Gagal

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Nasib ribuan PPPK Kota Tasikmalaya terancam PHK. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya dalam pemberitaan Media Indonesia dan beberapa media lainnya.

Sekda menyebut, sekitar 1.800 PPPK paruh waktu terancam tidak diperpanjang kontraknya. Kondisi ini disebut sebagai dampak dari kebijakan pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD.

“Rencana pembatasan belanja pegawai maksimal 30 persen dilakukan pemerintah pusat, tentunya pemerintah daerah akan melakukan penyesuaian terutama dalam pengelolaan anggaran. Namun, kebijakan tersebut berpotensi akan berdampak pada 1.800 orang PPPK paruh waktu terancam kena pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarmya, Jumat (27/3).

Ia juga menegaskan pemerintah daerah akan melakukan penyesuaian anggaran. Di sisi lain, Sekda mengakui kondisi fiskal daerah terbatas dan meminta semua pihak tidak hanya mengkritik, tetapi ikut mencari solusi.


Kritik: Jalan Pintas dan Kegagalan Kinerja

Pernyataan tersebut langsung menuai kritik. Sekretaris Komunitas Media SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif), Asep Ishak, menilai langkah itu mencerminkan cara berpikir instan.

“Kalau langsung bicara PHK ribuan PPPK Kota Tasikmalaya, ini terkesan cari gampang. Seolah tidak ada pilihan lain,” ujarnya.

Menurut Asep, kondisi ini tidak muncul tiba-tiba. Regulasi pembatasan belanja daerah sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022.

“Undang-undang itu sudah ada sejak 2022. Harusnya sudah diantisipasi jauh-jauh hari,” katanya.

Ia menegaskan, Sekda memiliki peran strategis sebagai Ketua TAPD yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengendalian anggaran.

“Kalau sekarang terkesan kaget, berarti kinerja dia sebagai Ketua TAPD gagal,” tegasnya.

Halaman selanjutnya: Tidak Ada Indikasi Upaya Menyesuaikan Anggaran


Cuaca Ciamis Hari Ini: Waspada, 2 Kecamatan Berpotensi Hujan Petir

lintaspriangan.comBERITA CIAMIS. Informasi terbaru dari BMKG menyebutkan bahwa cuaca Ciamis hari ini, Sabtu (28/03/2026), didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang di sebagian besar wilayah. Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena terdapat potensi cuaca ekstrem di sejumlah titik.

Secara umum, suhu udara di wilayah Kabupaten Ciamis hari ini berada pada kisaran 23 hingga 30 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi, yaitu antara 71 hingga 98 persen. Kondisi atmosfer yang lembap ini menjadi faktor utama terbentuknya awan hujan, terutama pada siang hingga malam hari.

Pola cuaca seperti ini cukup umum terjadi pada masa pancaroba. Pagi hari cenderung cerah berawan, namun menjelang siang hingga sore, hujan bisa turun secara tiba-tiba dengan intensitas bervariasi. Bahkan dalam beberapa kasus, hujan dapat disertai angin kencang dan petir.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat. Pengguna jalan perlu berhati-hati saat berkendara, terutama ketika hujan turun dan jarak pandang menurun. Aktivitas luar ruangan juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca, termasuk menghindari tempat terbuka saat terjadi petir.

Di sektor pertanian, kondisi ini sebenarnya cukup mendukung karena ketersediaan air relatif terjaga. Namun, petani tetap perlu mengantisipasi potensi hujan lebat yang bisa memicu genangan atau merusak tanaman.

Aktivitas masyarakat lainnya seperti perjalanan hingga pekerjaan lapangan juga diharapkan dapat menyesuaikan dengan dinamika cuaca yang terjadi hari ini.

Berikut wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus:

  • Kecamatan Sadananya
    Hujan Petir
    Suhu: 22–29 °C
    Kelembapan: 68–98%
  • Kecamatan Cihaurbeuti
    Hujan Petir
    Suhu: 21–28 °C
    Kelembapan: 68–98%

Dengan adanya potensi hujan petir di dua kecamatan tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap risiko seperti sambaran petir, pohon tumbang, hingga gangguan jaringan listrik.

Sejauh pemantauan redaksi Lintas Priangan di website resmi BMKG, dari semua kecamatan di Priangan Timur (Garut hingga Pangandaran), potensi hujan petir hanya terjadi di 2 kecamatan tersebut di atas.

Pantau terus informasi resmi dari BMKG untuk mendapatkan update terkini mengenai cuaca Ciamis hari ini, agar aktivitas tetap aman dan lancar. (AS)

Fenomena Quiet Quitting Nge-Trend di Kalangan ASN Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.  Istilah quiet quitting kini tak hanya ramai di kalangan pekerja swasta atau generasi muda di kota besar. Fenomena ini mulai terasa di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Tasikmalaya. Sejumlah pegawai mengakui, mereka tetap bekerja seperti biasa, namun memilih membatasi diri hanya pada tugas pokok dan fungsi (tupoksi), tanpa lagi “all out” seperti dulu.

Fenomena ini dikenal sebagai Quiet Quitting, sebuah pola kerja di mana pegawai tidak benar-benar berhenti, tetapi juga tidak lagi memberikan upaya ekstra di luar kewajibannya. Mereka hadir, menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak lagi mengejar pengakuan yang dianggap tak sebanding dengan usaha.

Seorang PNS di Kota Tasikmalaya mengungkapkan perubahan sikap kerjanya setelah belasan tahun mengabdi. Ia mengaku pernah bekerja dengan semangat tinggi di awal kariernya, namun realitas sistem membuatnya berpikir ulang.

“Di awal-awal jadi PNS, saya kerja dengan semangat 45, tapi ketika sistem ternyata tidak mengapresiasi kinerja secara utuh, daripada ngebatin, mending tidak usah berharap banyak,” ujarnya kepada Lintas Priangan, Jumat (27/03/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan yang tidak meledak dalam bentuk protes terbuka, melainkan berubah menjadi sikap kerja yang lebih datar dan terukur. Bagi sebagian ASN, ini bukan bentuk kemalasan, melainkan cara bertahan.

Hal senada disampaikan PNS lainnya di Kota Tasikmalaya. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia justru melihat perubahan ini sebagai sesuatu yang membawa dampak positif bagi kehidupan pribadinya.

“Alhamdulillah, sekarang punya waktu yang lebih untuk keluarga. Peran saya sebagai ASN juga bisa saya laksanakan dengan berkegiatan dengan masyarakat, di majelis taklim dan ibu-ibu PKK di lingkungan. Kalau di kantor, fokus pada tugas-tugas pribadi saja. Dulu pernah kerja kenceng, lembur terus, tapi rasanya sama saja dengan yang kerja biasa,” katanya.

Fenomena serupa juga terjadi di kabupaten. Seorang PNS di Kabupaten Tasikmalaya menilai, semakin tinggi posisi, justru risiko yang dihadapi semakin besar, termasuk potensi tekanan kepentingan politik.

“Makin tinggi jabatan, risiko malah makin besar, belum lagi intervensi politik. Kita kerja sesuai tupoksi saja,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber lain mengungkap sisi lain yang lebih sensitif, yakni soal akses dan dinamika kekuasaan dalam birokrasi.

“Dulu sih sempet punya mimpi, punya jabatan, jujur saja, sempet juga ‘ikhtiar’ ke sana kemari. Tapi ya begitulah, ujung-ujungnya kinerja nomor berapa, yang lebih menentukan akses,” tuturnya.

Fenomena quiet quitting sendiri bukan berarti ASN berhenti bekerja atau menurunkan kualitas secara drastis. Mereka tetap menjalankan tugas sesuai standar, namun tidak lagi memberikan tenaga ekstra yang tidak mendapat penghargaan yang setimpal.

Secara konsep, quiet quitting berbeda dengan sikap malas. Jika malas berarti bekerja di bawah standar, maka quiet quitting justru bekerja sesuai standar—tanpa tambahan usaha yang dianggap tidak berdampak signifikan terhadap karier maupun kesejahteraan.

Fenomena ini sering dipicu oleh beberapa faktor, seperti burnout, ketidakpuasan terhadap sistem penghargaan, hingga ketidakseimbangan antara beban kerja dan kehidupan pribadi. Dalam konteks birokrasi, faktor struktural dan budaya kerja juga turut memengaruhi.

Di satu sisi, fenomena ini bisa menjadi alarm bagi institusi untuk memperbaiki sistem manajemen kinerja dan penghargaan. Namun di sisi lain, jika dibiarkan, Quiet Quitting ASN Tasikmalaya berpotensi menurunkan inovasi dan inisiatif dalam pelayanan publik.

Di tengah tuntutan reformasi birokrasi dan pelayanan yang semakin cepat serta adaptif, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, ASN merupakan ujung tombak pelayanan masyarakat yang diharapkan tidak hanya bekerja sesuai aturan, tetapi juga mampu berinovasi.

Fenomena Quiet Quitting ASN Tasikmalaya ini seolah menjadi pesan diam dari dalam sistem: bahwa ada jarak antara harapan dan realitas yang dirasakan para pelaksana di lapangan.

Quiet quitting, pada akhirnya, bukan sekadar tren. Ia adalah refleksi—bahwa di balik rutinitas kantor yang terlihat normal, ada perubahan cara pandang terhadap kerja, loyalitas, dan makna pengabdian itu sendiri.

Dan seperti biasa dalam birokrasi, perubahan terbesar seringkali tidak dimulai dari rapat besar, melainkan dari sikap kecil yang perlahan menjadi kebiasaan. (AS)

BGN Ciamis Gelar Pelatihan bagi Penjamah dan Penyedia Makanan

0

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Ciamis berpacu dengan waktu untuk memastikan kesiapan lapangan, mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM) hingga kelayakan teknis dengan menggelar pelatihan bagi penjamah dan penyedia makanan

Kegiatan dilaksanakan di aula Badan Kepegawaian Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Ciamis, Jumat (27/03/2026) tersebut dalam rangka menjelang operasional perdana SPPG tanggal 31 Maret 2026 mendatang.

Pelatihan diikuti delapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari beberapa kecamatan diantaranya Panawangan, Panumbangan, Pamarican, Sadananya, Kawali, Cipaku, dan Jatinagara.

Koordinator BGN Ciamis, Eggy Arman mengakui waktu persiapan yang terbatas menjadi tantangan tersendiri, terlebih sebagian tahapan masih berjalan paralel menjelang hari operasional.

“Operasional direncanakan mulai 31 Maret. Sementara saat ini masih masa penyesuaian. Jadi kami harus bergerak cepat memastikan semua siap,” katanya.

Tantangan Teknis di Lapangan

Selain kesiapan SDM, tantangan utama juga terletak pada pemenuhan standar kelayakan sanitasi yang masih dalam proses.

Dari total unit yang ada, baru 105 yang telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sementara sekitar 145 lainnya masih menjalani tahapan uji, terutama di laboratorium.

Proses pengujian tidak sederhana. Setiap komponen diperiksa secara detail, mulai dari bahan makanan, kualitas air, hingga kebersihan peralatan dan petugas.

“Kalau ada yang belum memenuhi standar, harus diulang. Ini yang membuat prosesnya cukup menantang di tengah waktu yang terbatas,” jelas Eggy.

Menurutnya, kualitas air menjadi salah satu kendala yang kerap ditemui di lapangan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, penggunaan air galon bersertifikasi mulai didorong agar proses uji bisa lebih cepat memenuhi standar.

BACA JUGA: Program MBG Jadi Peluang Emas Ekonomi Masyarakat Ciamis

Simulasi dari Produksi Nyata

Tak hanya itu, pengujian juga dilakukan langsung dari makanan yang diproduksi untuk didistribusikan, bukan sekadar sampel uji coba.

Langkah ini membuat proses persiapan semakin realistis, namun sekaligus menuntut kesiapan penuh dari setiap unit SPPG.

Sebanyak 220 peserta yang terlibat dalam pelatihan juga dituntut mampu bekerja cepat sekaligus tetap menjaga standar higienitas.
Meski dihadapkan pada waktu yang sempit dan tantangan teknis.

“Kami optimis seluruh SPPG dapat mulai beroperasi sesuai jadwal dengan standar keamanan pangan yang tetap terjaga,” pungkasnya. (FSL)