lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Dealer Honda berguguran di Indonesia menjadi sinyal kuat perubahan besar dalam industri otomotif nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan penjualan Honda tidak hanya terlihat dari angka distribusi, tetapi juga berdampak langsung pada jaringan dealer yang mulai tutup satu per satu.
Data distribusi wholesales menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada 2023, penjualan Honda masih mencapai 138.967 unit. Namun, angka tersebut turun tajam menjadi 94.742 unit pada 2024, lalu kembali merosot ke 56.500 unit di 2025. Memasuki Januari–Februari 2026, distribusi Honda hanya mencapai 9.401 unit, membuat posisinya terlempar dari tiga besar ke peringkat enam.
Penurunan ini juga terjadi pada sisi retail. Dari 128.010 unit pada 2023, penjualan ke konsumen turun menjadi 103.023 unit di 2024 dan kembali melemah ke 71.233 unit pada 2025. Awal 2026, angka retail hanya 8.921 unit, membuat posisi Honda semakin tertekan di tengah persaingan pasar.
Di saat yang sama, tekanan dari kompetitor semakin terasa. Merek asal China seperti BYD mulai menyalip posisi Honda, didorong oleh strategi agresif, teknologi elektrifikasi, dan harga yang lebih kompetitif. Bahkan, Honda kini harus rela berada di bawah pemain baru yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Kondisi ini diperparah oleh lini produk yang dinilai kurang mampu mendongkrak penjualan. Model hybrid yang diharapkan menjadi penopang, seperti HR-V e:HEV, belum memberikan dampak signifikan. Pada Januari 2026, model tersebut hanya mencatat penjualan wholesales 229 unit, masih kalah dari model hybrid asal China.
Sementara itu, model andalan seperti Honda Brio masih mencatat penjualan, namun cenderung stagnan dan tidak lagi memberikan kejutan di pasar yang semakin kompetitif. Di tengah perubahan preferensi konsumen menuju kendaraan elektrifikasi, inovasi produk menjadi faktor penentu yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Dampak paling nyata dari penurunan ini terlihat pada jaringan distribusi. Sepanjang 2025, sejumlah dealer Honda dilaporkan tutup, di antaranya di BSD Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Surabaya. Gelombang penutupan berlanjut pada 2026.
Salah satu yang paling mencolok adalah penutupan dealer Honda Pondok Indah pada 20 Maret 2026. Tak lama berselang, dealer Honda Pondok Pinang juga menyusul tutup per 1 April 2026. Bahkan, lokasi tersebut dikabarkan akan beralih menjadi showroom merek baru.
Fenomena dealer Honda berguguran di Indonesia ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya soal penjualan, tetapi juga strategi jangka panjang dalam membaca arah pasar. Perubahan menuju kendaraan listrik, agresivitas pemain baru, serta dinamika preferensi konsumen menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin dominasi merek Jepang di pasar otomotif Indonesia akan mulai terkikis. Pertanyaannya kini, apakah ini hanya fase penyesuaian, atau awal dari pergeseran besar dalam peta industri otomotif nasional? (AS)
Baca berita Lintas Priangan di Google News



