lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat menilai konten lokal di wilayah Priangan Timur belum sepenuhnya menjadi pilihan utama masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.
Hal itu disampaikan Ketua KPID Jabar, Dr. Adiyana Slamet, S.IP., M.Si, dalam forum Nyemah Atikan Penyiaran di Priangan Timur yang digelar di Bale Priangan Bank Indonesia Tasikmalaya, Selasa (21/4/2026).
Ia menyebut, meski secara umum lembaga penyiaran telah mematuhi regulasi, tantangan terbesar saat ini justru datang dari derasnya arus informasi yang memengaruhi aspek kebudayaan.
“Lembaga penyiaran tidak bisa sendirian mencegah disfungsi informasi yang menggempur aspek kebudayaan,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, KPID Jabar menggandeng Asosiasi Pers Mahasiswa (APM) sebagai mitra strategis dalam penguatan konten lokal yang tetap sesuai regulasi penyiaran.
enurutnya, pers mahasiswa memiliki peran penting dalam mengembangkan program-program lokal, khususnya di Priangan Timur dalam sistem siaran jaringan.
“Paling tidak, anak-anak pers mahasiswa ini bisa mengembangkan program lokal di Priangan Timur,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai budaya Sunda yang mulai tergerus arus digitalisasi dan media sosial.
“Benteng itu bukan hanya KPID atau lembaga penyiaran, tapi tanggung jawab kita semua, termasuk pers mahasiswa di Priangan Timur,” tegasnya.
Pernyataan tersebut diperkuat hasil riset KPID Jabar terhadap 601 responden di enam klaster wilayah. Salah satunya di Priangan Timur dengan pendekatan panca gatra dan psikologi sosial.
Baca Juga : Wakil Walikota Tasikmalaya Sebut Pers Lokal Kunci Angkat Potensi Daerah
Hasil riset menunjukkan aspek sosial budaya menjadi perhatian utama, dengan lebih dari 50 persen responden menilai media sosial berdampak pada penurunan nilai budaya.
Dr. Adiyana mengungkapkan terjadi pergeseran nilai someah, gotong royong, dan kolektivitas dalam kehidupan masyarakat.
“Saat ini lebih cenderung individual, dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Konteks interaksi juga lebih didominasi oleh perubahan perilaku sosial,” pungkasnya. (DH)
