lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Kenaikan harga plastik di sejumlah daerah mulai terasa nyata. Di pasar-pasar tradisional, terutama terkait plastik di Ciamis dan plastik di Tasikmalaya, pedagang mulai mengeluh. Pasokan menipis, harga merangkak naik, dan pelaku usaha kecil ikut terdampak.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar persoalan distribusi lokal. Di balik kenaikan harga tersebut, ada efek domino dari konflik global yang kini mulai merembet hingga ke tingkat pasar tradisional.
Perang di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran, berdampak langsung pada industri plastik dunia. Plastik yang selama ini bergantung pada bahan baku turunan minyak bumi ikut terkena imbas.
Gangguan pada jalur distribusi energi dan bahan baku membuat pasokan plastik terganggu. Akibatnya, harga plastik di berbagai negara, termasuk Indonesia, ikut melonjak. Bahkan di dalam negeri, kenaikan harga plastik dilaporkan bisa mencapai 50 persen, terutama sejak periode Ramadan hingga setelah Lebaran 2026.
Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik. Ketika pasokan dari luar negeri terganggu, dampaknya langsung terasa hingga ke pasar daerah.
Pemerintah pusat pun mulai bergerak. Dalam sejumlah laporan nasional, pemerintah disebut mulai menjajaki alternatif impor bahan baku dari berbagai negara untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah. Langkah ini bisa dibilang sebagai bentuk “panik halus”—antisipasi agar krisis tidak semakin meluas.
Sebab, jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya pada industri plastik. Harga barang kebutuhan sehari-hari yang menggunakan kemasan plastik juga berpotensi ikut naik.
Setelah efek global dan nasional itu, dampaknya kini benar-benar terasa di lapangan.
Di Kabupaten Ciamis, kelangkaan mulai terjadi. Pasokan plastik menurun, sementara harga terus naik dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Bidang Perdagangan Kabupaten Ciamis, Asep, mengatakan lonjakan harga dipicu terganggunya pasokan bahan baku dari luar negeri.
“Sekitar 60 sampai 70 persen bahan baku plastik masih impor. Ketika pasokan terganggu, dampaknya langsung terasa sampai ke daerah,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, bahan baku seperti nafta banyak didatangkan dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut membuat distribusi tersendat.
Akibatnya, stok plastik di pasaran menurun dan harga di tingkat pengecer ikut naik.
Di lapangan, pedagang mulai merasakan dampak krisis plastik di Ciamis. Plastik kresek yang biasa digunakan untuk membungkus makanan kini menjadi barang yang lebih mahal dari biasanya.
“Kresek paling terasa. Biasanya dipakai untuk bungkus makanan seperti kue, sekarang harganya naik. Otomatis biaya produksi ikut naik,” kata Asep.
Kondisi serupa juga mulai terasa pada plastik di Tasikmalaya. Sejumlah pelaku usaha dan pedagang menghadapi tekanan yang sama, terutama mereka yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.
Bagi pelaku UMKM, plastik bukan sekadar pelengkap. Ia adalah bagian penting dalam rantai distribusi. Ketika harga plastik naik, margin keuntungan otomatis tergerus.
Tidak sedikit pelaku usaha yang kini harus menghitung ulang biaya produksi, bahkan mempertimbangkan menaikkan harga jual.
Di sisi lain, perubahan mulai terlihat di tingkat konsumen. Di Tasikmalaya, sejumlah pusat perbelanjaan mulai mendorong penggunaan tas belanja alternatif seperti totebag.
Langkah ini bukan hanya karena isu lingkungan, tetapi juga sebagai respons atas mahalnya harga plastik yang terus meningkat.
Pemerintah daerah sendiri mengakui memiliki keterbatasan dalam mengendalikan harga. Kenaikan yang terjadi lebih dipengaruhi faktor global yang berada di luar kendali daerah.
Meski begitu, masyarakat mulai didorong untuk mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke alternatif lain, seperti tas belanja sendiri atau bahan ramah lingkungan.
Dengan kondisi pasokan yang belum sepenuhnya pulih, tekanan terhadap pelaku usaha diperkirakan masih akan berlanjut.
Jika situasi ini terus terjadi, bukan hanya plastik di Ciamis dan Tasikmalaya yang akan semakin mahal, tapi cara masyarakat berbelanja pun bisa ikut berubah.
Dan mungkin, di tengah semua ini, satu hal yang paling terasa sederhana tapi nyata: sekarang, bungkus gorengan pun jadi keputusan ekonomi yang tidak sederhana. (AS)
