lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Pelaksanaan UTBK SNBT 2026 resmi dimulai pada Selasa (21/04/2026). Di hari pertama ini, sejumlah peserta mulai membagikan pengalaman mereka setelah keluar dari ruang ujian. Dari pola soal hingga fitur baru dalam sistem, ada beberapa temuan menarik—bahkan terbilang “aneh”.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, materi yang diujikan masih konsisten dengan tahun sebelumnya. Komponen tes tetap mencakup tujuh bagian utama, yakni Penalaran Umum (PU), Pengetahuan dan Pemahaman Umum (PPU), Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM), Pengetahuan Kuantitatif (PK), Literasi Bahasa Indonesia (LBI), Literasi Bahasa Inggris (LBE), serta Penalaran Matematika (PM).
“Materinya masih sama seperti tahun lalu, jadi masih nyambung dengan latihan yang biasa kita kerjakan,” ujar salah satu peserta saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa siang.
Namun, di balik pola yang relatif familiar, peserta justru menyoroti satu bagian yang dianggap paling “menguras otak”, yakni Pengetahuan Kuantitatif (PK).
Dari beberapa narasumber, bagian ini disebut mengalami peningkatan tingkat kesulitan dibandingkan tahun sebelumnya.
“PK-nya lebih sulit. Soalnya nggak bisa langsung ketemu jawabannya, harus mikir beberapa langkah. Lumayan bikin kejar-kejaran sama waktu,” ungkap salah satu peserta.
Peserta lain juga mengaku sempat kehilangan fokus saat mengerjakan bagian tersebut.
“Kalau tahun lalu masih bisa ditebak polanya, sekarang lebih banyak analisis. Jadi gampang ‘blank’ kalau panik,” katanya.
Namun yang paling menarik perhatian justru bukan hanya soal tingkat kesulitan, melainkan fitur kalkulator digital yang disediakan dalam sistem Computer Assisted Test (CAT).
Secara logika, fitur ini seharusnya membantu pada bagian yang paling banyak hitungan. Tapi fakta di lapangan justru memunculkan hal yang cukup menggelitik.
Bagian yang dianggap paling sulit adalah PK, tetapi fitur kalkulator justru tersedia di bagian Penalaran Matematika (PM).
“Lucunya, yang bikin pusing itu PK, tapi kalkulatornya malah ada di PM,” ujar peserta sambil tertawa kecil.
Fenomena ini memunculkan dua tafsir. Pertama, kehadiran kalkulator memang dimaksudkan sebagai fasilitas tambahan dari panitia untuk membantu peserta. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa tantangan utama bukan sekadar hitungan, melainkan kemampuan analisis dan logika.
Dengan kata lain, walaupun ada kalkulator, tetap saja tidak bisa “diselamatkan” kalau konsepnya tidak kuat.
Secara umum, tingkat kesulitan UTBK SNBT 2026 hari pertama dinilai masih dalam kategori wajar dan sebanding dengan tahun sebelumnya. Namun, adanya peningkatan kompleksitas pada bagian tertentu membuat ujian tahun ini tetap menuntut kesiapan yang matang.
Baca berita lainnya: Terlindungi: Bocoran UTBK 2026 Hari Pertama: PK Sulit, Ini Tips Menghadapinya
Bagi peserta yang akan mengikuti ujian di hari berikutnya, bocoran ini bisa menjadi peringatan dini: jangan hanya mengandalkan kemampuan hitung cepat, tetapi perkuat juga pemahaman konsep dan strategi pengerjaan.
Karena di UTBK 2026, yang diuji bukan cuma kemampuan berhitung—tapi kemampuan berpikir di bawah tekanan. Dan kadang, yang bikin gagal bukan soal susah… tapi karena otak keburu “logout” duluan. (AS)
